Pemenang Lomba Novel DKJ

Pemenang lomba novel DKJ sudah diumumkan tanggal 4 Desember 2018 kemarin. Selain memilih tiga pemenang, dewan juri juga memilih lima naskah yang dianggap mereka layak terbit.

Berikut adalah lima naskah yang layak terbit:

• Naskah nomor 83: “Pemetik Bintang”
Premis cerita naskah ini adalah kecemasan akan mediokritas, selain sejumlah tema anak muda lain. Naskah ditulis dengan lancar dan membetahkan, deskripsi yang memikat dan komentar-komentar yang jenaka. Ada upaya penjelajahan bentuk sepanjang narasi yang cukup baik. Akan tetapi, dengan karakter yang pintar-pintar semua, dialog kerap terjatuh menjadi seri monolog dan terasa menggurui. Selain itu, kadang terasa seperti novel populer Barat pada umumnya (imajinasinya, rasa bahasa, rujukan-rujukan kultural, hingga aspirasi hidup salah satu tokoh yang sangat berkiblat ke Barat). Naskah ini ditulis oleh Venerdi Handoyo.

• Naskah nomor 214: “Tiga dalam Kayu”
Naskah ini ditulis dengan kecenderungan untuk berpuisi, dengan struktur pengisahan yang cukup baru. Yang menarik, bagian awal adalah semacam variasi dari tema karya-karya sastra dunia yang dipindahkan ke latar lokal, dengan motif narasi feminis sebagai sisi sejarah ‘yang terlewati’. Narasi rata-rata berjalan lancar, tapi sering terganggu oleh kecenderungan pamer intertekstualitas dan sejumlah kalimat-kalimat kaku lantaran gramatika bahasa Inggris. Suasana futuristik-distopia dalam bangun-dunia fiksionalnya cenderung sureal, tapi penggambarannya terlampau kabur dan di beberapa tempat agak tidak masuk akal. Naskah ini ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

• Naskah nomor 218: “Nyi Manganti”
Naskah ini ditopang oleh riset yang mendalam dan berhasil mengolah khazanah manuskrip Sunda kuno untuk membangun kisah fiksi yang padu. Kalimat-kalimatnya beres. Dengan rentang latar waktu ratusan tahun, naskah ini berhasil menggambarkan perubahan zaman dengan menempatkan Cilalis sebagai alegori dari Indonesia. Sayangnya agak terlalu cepat di bagian akhir dan kurang memadai dalam elaborasi setiap tokoh kuncinya. Naskah ini ditulis oleh Dadan Sutisna.

• Naskah nomor 233: “Babad Kopi Parahyangan”
Naskah ini sangat tampak berasal dari riset yang mendalam, bukan hanya soal sejarah kolonialisme, tetapi juga studi etnografis dan sejarah teknologi di masyarakat pedesaan tatar Pasundan abad ke-19. Riset serius ini tampak dalam naskah yang relatif bersih dari anakronisme—silap yang kerap dilakukan naskah lain dalam genre sejenis. Sayangnya, agak susah keluar dari bayang-bayang Arus Balik dan Max Havelaar. Yang juga lumayan mengusik: setelah narasi yang sebelumnya begitu mendetail dan sabar, menjelang bagian akhir penyelesaiannya tampak tergesa dan berhenti tiba-tiba begitu saja. Naskah ini ditulis oleh Evi Sri Rezeki.

• Naskah nomor 241: “Teror Kain Kusut”
Naskah ini ditulis dengan gaya berkisah yang sangat mengalir, dengan peralihan dari narasi ke dialog yang sangat natural, enak dibaca. Sayangnya agak terlalu pendek, banyak motif belum dielaborasi, dan temanya terlalu generik: kehidupan mahasiswa, cinta segitiga, frustrasi muda-mudi. Masalahnya sama dengan naskah sejenis: dimaksudkan sebagai naskah novel polifonik, tetapi monofonik. Naskah ini ditulis oleh Irman Hidayat.

Tiga Pemenang
Demikianlah maka kita sampai pada naskah-naskah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Ada tiga pemenang tahun ini. Ketiganya relatif lebih baik dalam empat kriteria penjurian dan memperlihatkan keunggulan di antara ratusan naskah lain. Kita mulai dari yang paling bontot:

• Juara ketiga, naskah nomor 105 berjudul: Balada Supri
Naskah ini ditulis dengan jenaka dan mengisahkan jatuh-bangunnya sebuah keluarga empat generasi dalam gaya realisme magis. Melalui lintas generasi kita dibawa pada gambar lebih besar berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, menyeret para tokoh ke dalam pusaran dan dampaknya pada kehidupan anak-cucu generasi selanjutnya. Metafora-metaforanya menggelitik, dengan dialog yang cair dan alami. Tokoh-tokohnya tidak terjebak ke dalam stereotipe atau karikatur, memaparkan dengan jelas pergulatan batin dan adaptasi mereka di tengah berbagai perubahan. Kelemahan utama naskah ini terletak pada kecenderungannya untuk menjadi sebuah versi lain lagi dari One Hundred Years of Solitude. Naskah ini ditulis oleh Mochamad Nasrullah.

• Juara kedua, naskah nomor 164 berjudul: Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman
Naskah bercerita tentang tokoh-tokoh dari kaum minoritas: seorang waria, pemeluk Ahmadiyah dan seterusnya. Dituturkan dengan gaya berkisah yang rileks dan menyenangkan, dengan jelajah bentuk narasi realis dan alegoris yang bersisi-sisian. Ia cukup berhasil sebagai upaya menuju novel polifonik. Hal paling mengganggu dalam novel ini adalah penokohannya cenderung hitam putih, suatu gangguan yang membawa risiko tergelincir ke arah melodrama. Selain itu, ia tiba-tiba kehilangan penuturan yang cemerlang ketika bersinggungan dengan tema agama. Seakan ada beban representatif untuk dapat menggambarkan secara objektif tentang realitas dan suara kaum marjinal, dalam rangka tidak melanggengkan stereotipe, prasangka, atau stigma yang ada di masyarakat. Naskah ini ditulis oleh Ahmad Mustafa.

• Juara pertama, naskah nomor 256 berjudul: Orang-Orang Oetimu
Berkisah tentang Suku Jawan di Nusa Tenggara Timur, naskah ini memiliki perbendaharaan kata yang kaya, diperkaya oleh khazanah bahasa Tetun, serta didasari dari penggalian khazanah tradisi Timor Leste dan cerita rakyat serta sejarah lokal NTT. Pembaca diajak menelusuri latar belakang tiap tokohnya yang sebetulnya merupakan elaborasi dari adegan pada bab pertama sebelum akhirnya novel ditutup dengan kembali ke adegan tersebut. Penokohan digarap dengan matang, riwayat hidup tiap tokoh dibeberkan secara memadai dan melebar menyentuh berbagai peristiwa sejarah di Indonesia yang menimpa mereka, berikut efeknya pada kehidupan para tokoh—baik secara individual maupun komunal. Selera humornya baik, cenderung subtil, kritik sosial disampaikan secara natural sebagai bagian dari kebutuhan pengisahan. Penulisnya mampu menggambarkan budaya, suasana kehidupan, karakter orang timur dengan sangat kental dan akurat: sebuah contoh fiksi etnografis yang digarap dengan baik. Naskah ini ditulis oleh Felix K. Nesi.

Demikianlah keputusan kami selaku dewan juri sayembara novel DKJ 2014.

Jakarta, 4 Desember 2018

Dewan Juri:
A.S. Laksana
Nukila Amal
Martin Suryajaya

Dapatkan Info Lomba Terbaru
Langsung dari Email Anda

Anda berkesempatan mendapat info lomba lebih cepat dan praktis